Thursday, July 12, 2018

Afirmasi Pagi


Beranjak dari tempat tidur dan turun ke jalan sebelum matahari memunculkan raga. Semangat baru yang menggebu, entah hanya untuk mendengarkan Frank Sinatra (atau Bon Iver, atau Olafur Arnalds yang memainkan Chopin) sepanjang perjalanan.

Ada pagi yang membutuhkan tidur lebih panjang. Ada pula pagi yang tidak membiarkan mata terlelap melainkan untuk membuka halaman demi halaman yang belum usai sambil menenggak kopi yang ia beli di Rest Area KM 13 sambil sesekali menyesap kepulan asap perlahan.

Tenggelam sendirian menjadi pagi. Harapan-harapan sederhana beraroma minyak telon bayi mengepung mengajaknya berteman. Berteman selekatnya, karena nanti siang dan sore adalah perlawanan.

(Ia tidak juga bertemu Malam)

Monday, June 18, 2018

Aku Tidak Pernah Menulis Untukmu


Membuka, menyisir satu persatu siapa yang usai membaca barisan kalimat yang kutata. Dengan bodohnya, aku selalu berharap kamu membaca di detik aku menanggalkan isi pikiranku dengan tinta yang mengotori ujung jariku. Memang, bukan tulisan untukmu atau tentangmu, tapi aku selalu berharap: kamu membacanya.

Aku tidak pernah menulis untukmu, sebagaimana kamu tidak pernah menyelami kemurnian yang ada di tiap-tiap ciptaan. Sebagaimana pertanyaan-pertanyaanku yang akan terus mengambang, tentang manisnya isi bumi namun dengan manusia-manusia getir yang tidak pula membangunkan dirimu. Memang, terkadang kita perlu mengubur diri sendiri dalam-dalam, mengunyah kekhawatiran kita sendiri, perlahan. Oh, aku bahkan tidak pernah mengenalimu ketika kita sedang berbicara.

Aku tidak pernah menulis untukmu, sebagaimana kamu mencoba mematahkan keyakinan yang tidak kamu yakini. Kebenaranmu selalu menjadi subjektivitas mutlak yang kamu terapkan pada hal apapun. Manusia-manusia dengan beban peluh di punggung mereka yang masing-masing berbeda tidak juga mematahkan tingginya kebenaranmu, megahnya nilai-nilai maha segalamu. Kamu tidak pernah mempelajari relativitas pilihan-pilihan yang aku nikmati sebagai bagian dari perayaan hidup, kamu bahkan meludahinya. Aku masih menyimpan ludah itu di ujung sepatuku. Ia tidak juga mengering setelah sekian waktu.

Aku tidak pernah menulis untukmu, sebagaimana kamu tidak pernah memainkan dentingan piano paling jujur untuk dirimu (apalagi untukku). Nada-nada dan nafas tidak pernah memburumu untuk berbuat sesuatu. Entah, mungkin sekian persen darahmu sudah membatu. Sampai akhirnya tidak pernah ada ingatan akan kita yang membaca nada bersama, dengan aku yang menjadi diriku dan kamu yang menjadi dirimu. Tidak pernah ada.

Setelah sekian perjalanan melelahkan, aku berani menyimpulkan: usaha memberikan batasan ketika puncak keinginan sudah berada di tangan.

Tangan-tangan yang pernah menggamit lengan.

Kulihat, tangan-tangan itu penuh.

(dan tanganku kosong)

Monday, June 4, 2018

Diana Kelana: Beijing

Siapa Diana?
Diana adalah teman kecilku. Ia ringan dan berwarna biru. Diana memiliki kembaran yang jumlahnya banyak sekali dan tersebar di seluruh dunia. Aku senang bagaimana Lomo memberi nama yang sangat personal: Diana. Aku tidak ingin memberi tambahan nama depan atau belakang, cukup Diana saja, dan dia sudah spesial untukku. Bagaimana tidak, aku sudah menginginkan kamera ini sejak aku masih duduk di bangku SMP. Hmm... Kira-kira tahun 2009. Pada saat itu, Lomo memang sedang naik daun dengan kemunculan berbagai kamera plastik lainnya. Sampai akhirnya aku memilikinya sekarang, bermodalkan satu hal yang sangat sering Raras lakukan: impulsivitas!

Diana ini imut sekali, ia muat dalam genggaman dan tidak memberatkan leher ketika dikalungkan. Suka menemaniku bepergian dan sering mendapatkan banyak komentar salah alamat berupa, "Wah, kalungnya bagus ya!". Yap, begitulah Diana. Mungil dan penuh kejutan.

Aku dan Diana. Difoto oleh @rosawinenggar menggunakan kamera Kodak analognya.

Perjalanan Pertama Diana
Kali ini, aku akan menceritakan perjalanan pertamaku dengan Diana.
Sebelum dibawa bepergian ke Beijing, Diana terlebih dahulu menyusuri jalanan Jakarta.

Jakarta dan isi-isi harapannya yang saling bersinggungan, berhimpitan

Kuningan-Kasablanka di saat lengang

Beijing Capital International Airport
Wah, ternyata Diana membutuhkan lebih banyak cahaya.

Selamat datang di Beijing!

Diana lebih melirik iklan Vivo dibandingkan aku yang sudah lepek mendorong gunungan koper

Keduanya sedang membaca
Jendela belakang kereta bandara

Beijing Scitech Outlet
Pusat perbelanjaan yang santai. Orang tidak banyak tergesa.

"Coba fotoin ya aku menghadap belakang"

Duduk santai mengamini angan

Membeli Apel di Pinggir Jalan
Keluargaku suka makan buah. Ketika dalam perjalanan menuju Ming Tomb, kami melihat penjual apel di pinggir jalan. Tanpa pikir panjang, kami meminta supir taksi untuk berhenti sejenak, kami mau beli apel yang besar-besar!

Meskipun terkendala bahasa, sorotan kamera dan izin untuk mengambil potret
dirinya melalui bahasa senyuman ternyata berhasil membuahkan senyum pula darinya

Apel merah, besar, segar

Taksi di Beijing sudah pakai Mazda 2. Oiya, ini bukan supirnya ya.

Ming Tomb
Ming Tomb, sesuai namanya, ini adalah kompleks peristirahatan terakhir Raja Ming. Tempat ini wajib kami kunjungi karena letaknya cukup dekat dengan tempat tinggal kami di Fuxue Road, Changping. Kompleks Ming Tomb ini luas sekali. Aku lebih suka menghabiskan waktu seharian di satu tempat yang luas dan banyak hal untuk dijelajahi, daripada seharian kesana-kemari tapi tak bisa secara utuh menikmati (baca: aku lebih suka jalan-jalan sendiri daripada ikut tur wisata).

Berfoto di depan gerbang supaya sah!

Ibuk dan topi bundar yang baru dibeli di pinggir jalan

Jalan, jalan, jalan. Jalan sejauhnya, cukup kaki jadi tumpuan.


Tidak bisa kubaca, tapi pasti ada harapan terukir di atasnya


Malam di Changping District
Tidak ada kedai kopi yang terjangkau pandangan, restoran cepat saji jadi pilihan.

Tanpa kopi tidak masalah, hanya ingin yang segar-segar

Kopi dingin yang hampir tandas



Bunga-Bunga
Bunga, segala jenis bunga, menjadi favorit ibuku.
Ia akan selalu mendekati rimbunan bunga dan mengabadikan dengan kamera gawainya.

Bunga, dan Bapak Ibuk yang selalu berbunga-bunga. Semoga.

Tongsis jangan sampai lupa!



Aku rasa, aku harus mengenal Diana lebih dalam. Karena beberapa memori yang aku rekam melaluinya belum sepenuhnya sempurna. Masih banyak gambar yang blur, terlalu banyak cahaya, atau terlalu gelap. Tapi, pembelaanku, memang bukan kapasitas Diana untuk bisa menghasilkan gambar yang sepenuhnya sempurna (atau hanya alibiku saja sebagai pemilik Diana pemula, hahaha).

Ya, saatnya membawa Diana berkelana lagi!


Keterangan:
Kamera : Lomo Diana Mini
Film : AgfaVista400
Cuci Scan : Soup n' Film

Sunday, April 15, 2018

Human, After All

Pagi-pagi, dibuat marah dengan anak umur sebelas tahun yang bertingkah seperti umur tiga tahun. Begitu aku datang, ia langsung berteriak dan menghampiriku, menyeruak, ribut memperkenalkan dirinya sendiri. Menyebut namanya berulang kali, “Josephine, Josephine”. Kemudian ia duduk di lantai, bergumam sendirian, lalu bercerita lagi meski sepotong-sepotong dan amburadul. “Mama. Mama. Mama datang. Joshua, adik kecil. Mama masih tua. Kurus.” 

Penuh distraksi, ia berlari ke halaman lagi. Menyadari posisiku yang tidak berpindah, ia datang lagi dan menyalamiku, “Aku Josephine.” Ya. Aku sangat ingat namamu, terakhir kamu menyebutkannya 3 menit yang lalu. “Mama datang supir. Mobil itu. Supir.”

Ingatanmu terhenti pada saat itu. Saat mamamu mengantarmu ke tempat ini. Saat mamamu akhirnya pergi diiringi supir dan adikmu. Sungguh, aku ingin marah. Marah kepada apapun yang membuat pikiranmu terhenti dan terhanyut hanya pada momen itu. Kudengar, setiap hari kamu berharap mamamu akan datang menjemputmu. Kalau bisa, aku ingin berdiam sejenak di tempat ini untuk meniup dan mengeringkan lukamu.

Memasuki tempat itu lebih dalam, aku mendekat ke satu anak berbaju merah. Dia asik leyeh-leyeh meskipun sudah berulang kali disuruh duduk. Kalau kata orang Jawa, ndhablek. Dia bersama adik laki-lakinya di tempat ini, sementara mamanya yang juga seorang dokter memilih untuk tinggal di rumahnya yang hangat bersama adik perempuannya yang masih kecil. Aku tidak mau menghakimi siapa pun. Setiap manusia pasti memiliki pilihan (dan pilihan yang diambil tentu yang paling menguntungkan dirinya). Dia tidak bisa menyebutkan namanya, sehingga aku harus mendapatkan penjelasan mengenai dirinya dari suster yang ada di sebelahnya. Jonathan, pintar berbahasa Inggris jika bicara sendiri, suka Disney Tayo, dan harus dibawa sejauh mungkin dari gadget. Benar saja, ketika aku mengeluarkan milikku untuk membuat foto kelinci bersama anak lain, dia mendatangiku, “Tayo, Tayo”.

“Why do you like Tayo? Is it funny? Is it good?”
“I want Tayo.”
“Why Tayo?”
“Tayo, Tayo.”
“Well, no Tayo for today. Let’s sing. Look, this uncle brings guitar.”

Lalu Jonathan melenguh dan memainkan tangannya sejenak di atas gitar, tidak beraturan. Aku benci dan berprasangka buruk: inikah saat pertama kalimu memegang gitar? Tidak adakah yang pernah memberimu kesempatan untuk mengenal benda-benda dan alam yang ada di sekelilingmu? Belum puaskah kamu menikmati masa petualangan emasmu? Oh iya, kamu selalu mau Tayo. Kamu tidak ingin yang lain. Tayo. Tayo.

Aku  bingung, mencoba menerka. Tempat macam apa ini? Banyak sekali luka berceceran dimana-mana, menyeruak melalui lengkingan suara dan gerak gerik yang aneh. Aku ingin menghujani tempat ini dengan siraman alkohol, kemudian mengeringkannya dengan desiran angin sejuk. Memastikan agar luka yang basah bisa segera mengering. Tapi, siapakah aku? Kalian tidak merasa terluka, tapi luka itu ada disana! Aku bisa melihatnya, tetesan luka basah itu mengalir dan menyerap ke pori-pori kulitku. 

Sekembalinya dari tempat itu, jalanan diselimuti awan hitam, kemudian hujan. Sial! Kapan mau mengering kalau begini terus caranya? Mobilku pun jadi semakin kotor (dan hari ini aku tidak meluangkan waktu untuk cuci mobil sendiri. Aku sudah terlalu lelah dan mengantuk, ditambah dengan resapan luka tadi yang masih membekas di pori-pori). Aku pulang dengan perasaan tidak karuan. 


Ah...
Lagi-lagi perkara manusia.

Perkara manusia yang beragam, beban yang menghimpit, ucap syukur yang membludak, semuanya diserukan dalam diam. Orang-orang membungkam mulutnya, namun hatinya berbicara lantang. Sorotan mata mereka seolah ingin menyembunyikan apa yang sebenarnya mereka rasakan dan simpan dalam-dalam.

Aku berlutut di pojok, memastikan aku tidak terkena sorot lampu remang-remang atau lilin yang menyala berjejer. Aku tidak mengucap apa-apa. Aku tidak merangkai kata, benakku menusuk lebih tajam. Tiba-tiba, terasa ada aliran hangat yang melewati kedua pipiku. Jatuh. Terus berjatuhan. Semakin deras dan banyak. Sialan. Untung aku membawa tissue di tasku. 

Aku membuka mata sejenak, mendongakkan kepalaku, melihat ke patung Ibu yang sedang menggendong anak dewasanya di pangkuan. Banyak orang yang berdiri di dekatnya. Ada satu dari mereka yang memegang kaki anak itu sambil berusaha memejamkan mata lebih keras. Mulutnya mengucapkan barisan kalimat yang tidak mampu aku dengar.

Sungguh, tempat ini membingungkan. Aku datang untuk mencari ketenangan, tapi justru yang aku temui adalah diriku sendiri dan borok-borok di dalamnya yang menjijikkan.

(Lagi-lagi perkara manusia...)


Mungkin teh tarik panas dan cinnamon roll berlapis cokelat almond bisa menjadi jawaban, hari ini aku makan sedikit sekali. Sudut tersembunyi di Setiabudi ini selalu jadi penyelamat ketika aku tidak begitu mengenali diriku sendiri (atau justru kebalikannya? Dimana aku sungguh mengenali dan menyadari bahwa aku sedang tidak mampu mengatasi diri sendiri). Aku malu. Aku tidak ingin memanggil bala bantuan. Lagipula, aku ragu, apakah manusia bisa benar-benar membantu satu sama lain? Sementara pasti ada beberapa lubang di diri mereka yang belum selesai dikubur. 

Kubuka buku tepat di bagian yang sudah kuselipkan pembatas, cerita Laut belum tandas kubaca.

Monday, April 9, 2018

Pertemuan dengan Malam


Agaknya, malam memang punya ruang yang bisa melebar dan meluas sedemikian rupa ketika seseorang mencoba bertahan sedikit lebih lama di dalamnya. Ruang tersembunyi  untuk berhenti sejenak. Apapun alasanmu untuk berhenti, malam selalu punya cara yang memperbolehkanmu berlama-lama disana. Tangannya terbuka, siap memberi pelukan terhadap ceritamu yang kelam.

Apalagi ketika kamu memutuskan untuk tidak terlelap malam itu (meskipun kamu suka bermain dengan imajinasimu yang menggunung sebelum tertidur dan begitu menyukai mimpimu yang penuh teka-teki). Kamu memutuskan untuk terjaga dan bermain bersama malam yang membuka matanya lebar-lebar. Kamu menjadi dirimu, meskipun tidak sepenuhnya utuh (ah…apakah malam pernah menjadi utuh? Tidak ada yang tahu). Kamu membekali dirimu sedikit tawa yang sepertinya tulus, ya? Atau aku salah sangka? Kamu kan memang suka membuat dirimu menjadi bahagia, meskipun banyak orang yang sering meragukannya. Tawamu hangat, namun udara menyimpulkannya dingin.

Kamu tidak menguasai malam, dan malam tidak menguasaimu pula. Malam mendengarmu. Kamu bercerita meskipun tidak sepenuhnya. Malam tidak pernah bisa menjelaskan dirinya, pun dirimu. Malam dan kamu hanya dua komponen yang bersinggungan, itu saja. Tidak ada yang tahu apakah kamu suatu saat menjadi mengenali malam lebih jauh, atau seberapa jauh malam akan menerimamu untuk terus datang di ruang-ruangnya yang terbuka. Malam dan kamu sama-sama menerka semesta.

Oh iya… Aku lupa menegaskan bahwa malam bukanlah ia yang gelap, bukan lawan dari siang (yang selalu disebut-sebut anak sekolah dasar), bukan juga kelanjutan dari senja yang selalu dielu-elukan manusia. Malam adalah pertemuan-pertemuan itu sendiri.

Jakarta, 9 April 2018

Sunday, March 4, 2018

Hari Mulai Gemuruh

Akra biasa melewati jalan itu. Jalan yang ia lalui setiap berangkat dan pulang kerja. Jalan yang mengingat pada pukul berapa Akra terburu-buru mengejar pagi dan perlahan kembali pada batas petang.

Jalanan yang berlubang. Badan ditindih beban yang terus menerus berdatangan, mengikis permukaan perlahan. Lubang-lubang membesar dan mendalam. Menyerap peluh supir-supir truk yang merindukan bau rumah, keringat istri dan anak yang baru pulang sekolah.

Hari mulai gemuruh.

Terbangun di pagi buta, bersiap menempuh jarak yang kurang lebih 116 kilometer jauhnya, Akra kembali melewati jalan. Ia hapal betul dengan karakter jalan yang dilaluinya. Ia tahu kapan harus bergeser ke kiri karena sedang ada pekerjaan jalan di sebelah kanan, kapan harus bergegas konstan di kecepatan 120, kapan harus memberi lampu peringatan kepada kendaraan yang ugal-ugalan, dan kapan harus menghindari lubang.

Payahnya, ternyata Akra tidak selalu mampu mengenali lubang-lubang itu. Seberapa sering ia melaluinya, sesering itu pula perubahan-perubahan terjadi. Ada lubang yang semakin mendalam, lubang yang menghilang—terkubur gundukan tanah sementara, dan lubang-lubang baru yang bermunculan.

Hari mulai gemuruh.

Akra melaju cepat, terseok di beberapa lubang yang tak ia kenali.

Lalu hujan. Tak terkecuali dari mata-mata yang lelah berkecimpung dengan ketakutan-ketakutan.

Saturday, February 3, 2018

you owe me a song

..........jazzy melodies..........

it was one of dark nights
which turns brighter
through the words we spent in boneless gestures

we greeted each other
through unspoken smiles
and we kissed
through the air

you caught me alone
tossed in anonymity
but we,
passed each other in hurry

Thursday, February 1, 2018

Doorman

I found you alone,
hidden in bushes
listening to your intuitive mind,
heartwarming melodies

you knocked my unlocked door
surprise, surprise
eye-to-eye

I finally sip your aching soul
stuck in a deep stance of its limbo
intriguing the evil in me
and my blood streams a river of joy

I finally sip your kindest words in vain
(simplest or longest phrase
my brain remains blithe)

all the memories, rejections, and craps
remain the same

and we,
remain the gap

we're all facing our rejections
you with my sinnest past
and me,
with your present numbness

we are all fragile,
and afraid of things

Monday, December 18, 2017

Bali in Less Than 48 Hours: Seminyak Café Hopping

It was a hot weekday afternoon in undeniably crowded and sunny city Surabaya. There were 2 long-hairy women sitting down in everyone’s coffee shop, doing their routines over laptop, chit chats, and coffee. Latte was their favorito (sometimes sugar rushy Caramel Macchiato, or just tea on their poopy mood).

Surabaya was neither their hometown nor familiar places they ever lived in. You know, living outside your comfort zone urges you to adapt well. And if that doesn’t work, all you need is quick runaway. Quick escape from the city. Quick escape from routines which consume your productive weekdays and 4 hours on Saturday.

It happened when one of them popped up a sexy idea, “How about going to Bali?”.


Monday, October 9, 2017

CA 977

duduk di pinggir gang pesawat selama tujuh jam yang membawaku kembali ke jakarta ke tempat orang-orang bangun pagi untuk pulang petang memintal apa saja alasannya asa yang terus mengudara sementara aku bingung apakah aku bisa terus membaca sekarang karena di luar sudah petang aku malas menyalakan lampu karena aku harus berdiri sebentar orang asing di sebelahku puas memandangi jendela pesawat menikmati senja yang tadi lewat ketika aku tertidur pulas menunduk-nunduk dibangunkan pramugari bercepol rendah menawarkan nona mau wine merah orange juice teh air putih pepsi coca cola bodohnya aku meminta wine merah padahal aku tahu umurnya tak pernah lebih dari setahun menyebarkan rasa sepat memenuhi rongga bibir namun tak apa aku butuh penghangat untuk melanjutkan dengkur ketika si cepol rendah kembali ke sisiku "you should turn your mobile phone off, flight mode can not use, flight mode can not use" akhirnya tulisan selesai sampai disini
.
.
.
.
.
jakarta 3 jam lagi