Friday, December 18, 2015

A Selfless Tale

I was one of your forever cup of tea.

I sort of struck in conversations with many people. People are kind. People are special. I just like them for being whoever they are. Their sparkles and flaws, dreams and failures, donkeys and unicorns. 

I was one of your forever cup of tea.

If they started to talk and make jokes about another people, I'd like to giggle around and turn myself into a honest bitch. Though, in fact, I really don't have anything to do except talking about it, too. This mostly happen in fancy cages so that I'd rather to enjoy fancy food and praise its goodness than flunking the hot conversations. Gratefully, I was born as a good eater. I have big appetite like in every hours so I can eat whatever and whenever I want and still like it tho it might taste like crap --- and skip the conversations for a while.

I was one of your forever cup of tea.

If they started to talk about family, I'd blabber about mine, too. Tho I have such no great or complex family issues. So I guess mine is quite boring. Story of a kid who was born and raised with sincerity. With a Father who is very open-minded and have no big ambitions for his daughters. I guess his very sincere ambition is just: "be yourself and reach your dream, kid, cuz I believe you can do it in your very own way. I don't mind to spend mine for your wealthy needs and craps, as long as it's worth spending." And with a conventionalist Mother who drags her kids to Sunday Morning Church and have her morning prayer routines with her daughters photos tucked in zamrud Rosary beads. There’s nothing grand nor significant.

I was one of your forever cup of tea.

If they started to talk about their ambitions and achievements, I'd congratulated them and asked them how is going and what's next. I don't have any specialities compared to them, except my ability to be diligent af. I used to be praised in front of many people because of my highest scores amongst all, also dumped in the deepest crump with all of rejections and failures. I thought it was all okay. By any chance, I have those balance dynamic of prestigious and dumpy sides. What a wise!

I was one of your forever cup of tea.

If they grabbed me to do the fun thing in the club, I'd love to! But I'd only dance with the song that I like, with tiny-sized of liquors, and no cigars. Because I don't smoke. I smoke the aired melodies. And when I found out that it was boring or they rarely play my favorite song, I'd have a seat and read my handy e-book. I am freak, I know. I really am.

I was one of your forever cup of tea.

If they laughed at a person who do things all alone and assumed it as stupid lonely thing, I don't have any business to debate them and tragically, I'd still love them. What matters to me is the lonely-person itself and what kind of beautiful campaign that I can do to raise and save that lonely person. I'm not trying to romantizing. The objective is simple: loneliness is in everybody's (don't you find it in your own flesh or crashed soul?). I've helped myself in many ways that no other people can do it for me. People need to embrace and celebrate the solitude; it is a virtue.


.....converting my your-forever-cup-of-tea default setting

Buy me coffee?

Wednesday, November 25, 2015

The Most Sincere Part of Dreadful Agony

Why spring
Brought us home
To know and not-to-know
In such perplexing autonomy

I gave up on all puzzled intuitions
Bumped into breathless symphony
Scuffed

Have I ever seen you?
Perches in broken spaces,
Tasteless kisses,
Random night drives

Your misty shadows
Hanging and yelling
Vining over bedroom walls
Where the crumbs pour me all night long

Until then,
Who are you?

Thursday, November 19, 2015

Cerita Cinta Anak Zaman

Selama 21 tahun aku hidup, aku menyadari bahwa aku hanya benar-benar mencintai seorang lelaki. Ia adalah lelaki miskin yang tinggal bersama orang tua angkat yang menyayanginya. Pernah sekali aku menginap di rumah mereka yang gelap dan pengap. Lantainya belum dilapis keramik, sehingga aku harus merelakan kakiku menjadi hitam karenanya. Ada seekor anjing buduk hitam yang setia berkeliaran disana, aku lupa siapa namanya. Mungkin Heli, Neli, Guguk, atau siapalah itu.

Di halaman depan rumahnya yang sempit, terdapat kamar mandi dengan tembok rendah yang memungkinkan siapa saja (dengan sedikit usaha) untuk bisa mengintip ke dalam. Untungnya tidak ada mata keranjang yang berkeliaran ketika aku sedang mandi. Jika ada pun, aku dengan sigap akan menenggelamkannya ke dalam sumur yang berada di dalam kamar mandi, silahkan tidur nyenyak dengan laba-laba dan sarangnya yang lengket! Sejujurnya, aku tidak bisa membayangkan bagaimana masa kecil dan remajanya yang dihabiskan di rumah itu.

Kami sering terlibat dalam percakapan yang dalam, meskipun kami sama-sama tidak mengakui betapa kami menyukai percakapan tersebut dan ingin berlama-lama disana. Berbagi mimpi, masalah, harapan, dan ketakutan. Aku, sebagai pendengar kisahnya yang setia, mampu menyortir episode favoritku yang mungkin menjadi alasan mengapa ia pantas aku cintai.

I.
Ia terbiasa bahagia dengan cara yang sederhana; sesederhana bisa memiliki majalah dengan kertas yang mengkilap dan berwarna dari pamannya, di saat teman-teman seusianya masih berkutat dengan kertas koran yang jelek. Kebahagiaan lain juga ia dapatkan ketika mendapati buku tulis bersampul kertas kalender miliknya tertata rapih sehingga memudahkan ia belajar dan membaca ulang catatannya. Bersama dengannya sejauh ini membuatku mampu bahagia pula dengan cara yang sederhana, termasuk tertawa lepas melalui humor kacangan yang ia sodorkan padaku atau menenggelamkan diri kepada buku kala sendiri.

II.
Ia cenayang. Ia mengetahui apa yang ada di pikiranku tanpa aku harus mengutarakannya kencang-kencang. Ia lelaki yang tidak romantis, ia tidak pernah memberiku bunga meskipun ia tahu bahwa aku sangat menyukainya. Namun, melalui perilaku sederhanya dalam kehidupan sehari-hari, ia memenuhi checklist sebagai lelaki puitis versiku.

Berulang kali ia membacakan cerita kesukaanku, memberiku ucapan selamat ulang tahun yang tulus, atau menafsirkan arti lukisan yang menggantung di ruang tamu. Waktu itu lukisan penari Bali yang sering membuat bulu kudukku berdiri karena aku merasa mata dari penari itu setia membuntutiku. Ke kiri, ke kanan, mata itu terus menatapku tajam. Ia justru tertawa kencang dan berkata bahwa lukisan itu seakan hidup karena ada jiwa dari si pelukis yang dituangkan disitu. Aku pun mulai menikmati jiwa itu dan memaknai ruang perspektifku sendiri. Aku membayangkan bahwa si pelukis mungkin saja memiliki ikatan dengan penari itu namun entah bagaimana salah satu dari mereka harus menghilang dimakan ilalang. Mungkin sang penari lah yang menghilang, sehingga pelukis memutuskan untuk mengenangnya melalui goresan kuasnya.  

Kami saling mengisi ruang perspektif masing-masing tanpa ada peran yang salah dan yang benar. Kami tidak pernah bertengkar, karena kami selalu meyakini bahwa semua hal di dunia ini adalah hal yang relatif dan multi perspektif. Banyak orang yang mencemooh kami tidak punya pendirian karena kami begitu toleran pada keadaan apapun dan siapapun! Masa bodoh. Inilah cara kami menjadi merdeka dengan menjadi diri kami sendiri yang memahami tiap subjek dan objek dengan segala relativitasnya.

III.
Ia menghargai perjuangan, karena ia sendiri melakukannya. Menyadari bahwa ia harus berjuang untuk hidup, karena hidup tidak akan memberi emas pada kepala yang cetek dan badan yang malas. Berbekalkan senjata yang dimilikinya berupa bongkahan kemauan, ia belajar dengan banyak membaca dan mencatat. Sekali waktu ia pernah menceritakan padaku bahagianya ia ketika diterima sebagai mahasiswa Geografi di Universitas Indonesia melalui jalur PMDK. Aku ikut senang bukan kepalang. Tapi toh kebahagiaannya tidak bertahan lama, karena ia keburu dihujam kenyataan. Kuliah membutuhkan biaya yang tidak sedikit, ditambah dengan biaya yang harus dikeluaran untuk membayar kos dan lain-lainnya. Pupus sudah, ia gagal menjadi mahasiswa UI yang pretensius. Diam-diam aku kecewa, dengan diterimanya aku di Universitas Gadjah Mada, tentu aku menginginkan ia juga bisa kuliah sama seperti aku.

Lalu bagaimana?

Ia pun memutuskan untuk menjadi tentara, dimana segalanya tidak membutuhkan biaya alias gratis. Menjadi tentara merupakan jalan yang aman dan menjanjikan. Setelah menempuh 4 tahun pendidikan, ia bisa langsung bekerja dan mengabdi untuk negara. Nasib baik berpihak kepada yang pantas, ia pun mendapatkannya: menjadi tentara di angkatan udara. Hal ini tidak diperolehnya dengan mudah, karena ia harus melewati berbagai tes yang menguji mental dan raga. Kini aku mengetahui kegunaan dari bambu-bambu yang dipasang di halaman samping rumahnya yang ternyata biasa ia gunakan untuk latihan pull-up. Kegemarannya berenang yang ternyata ia lakukan untuk melatih kekuatan paru-parunya. Tangannya yang kapalan ketika bersalaman denganku yang ternyata disebabkan karena sering berlatih push up, sit up, dan back up di rumahnya yang berlantai kasar. Kertas-kertas bergambar house, tree, person yang ia tinggalkan di kamar sebagai latihan psikotestnya. Ia juga memiliki kesukaan yang sama denganku yaitu lari. Pernah ia berlari sangat jauh, melewati banyak sawah dan jalan raya, sampai pada titik ia masuk rumah sakit karena dianggap overtraining.

IV.
Selama hidup bersama, ia tidak pernah menghardik atau mengecamku. Sebaliknya, ia selalu menawarkanku solusi maupun jalan tengah yang lebih sering menguntungkanku. Ia tidak pernah mendikte aku harus ini itu. Ia tidak pernah merasa superior atas diriku. Ia juga tidak pernah melarangku melakukan hal apapun yang ku mau. Aku merasa menjadi sepenuhnya merdeka dengan segala kebebasan yang diberikannya. Suatu hari aku pernah bertanya mengapa ia membiarkanku terus terbang, nyatanya ia selalu percaya bahwa:
"Anakmu, adalah bukan anakmu. Mereka adalah anak zaman."

Maka ia membiarkanku terbang dan lepas mengikuti zaman.

Aku adalah anak zaman. Aku bisa menyeberangi zaman yang linear dimana ia dan aku hidup. Jangan sekalipun memberiku larangan atau kecaman, karena aku dididik oleh zaman untuk selalu berteriak keyakinan. Jangan pernah sekalipun membuat posisiku menjadi superior atau inferior, karena aku adalah anak zaman! Aku belajar oleh zaman bahwa pernah terjadi perjuangan kelas yang begitu sengit dan dengki, maka aku pun akan berusaha menggeser posisiku kapan saja agar menjadi setara. Jangan sekali-kali menunjukkan kesombongan, karena sama saja kamu sedang mengumbar isi otakmu yang dungu. Kecuali, kamu menawarkan kebanggaan atas prestasi atau hasil keringatmu, maka akan kuberikan nilai seratus. Jangan tawarkan apapun yang fana, cukup saja kesediaan untuk mendengar dan bertahan. Itu lebih sederhana dan bermakna, pasti aku akan lebih menghargainya. Karena aku adalah anak zaman! Anak yang melihat kisah bahwa berlian bisa mencabik-cabik tengkuk dan pembuluh darah seseorang hingga terjengkang.

Ia, dan aku

Monday, October 26, 2015

Kaimana: A Beginning

It has been awhile since I wrote my last post and I decided to write whatever I wanted to write today. I always want to write my community-development experience in Kaimana, West Papua. But you know when your thoughts are overwhelmed by thousand random things and you just can't decide which ideas you would prioritize first. And finally I intended to write my Kaimana's experience in different posts with its specific highlights.

Before all, let me serve you the appetizer.
A clear soup, mixed with enormous fillings and homemade broth.


My university as the first pioneer in fostering community-development practice for students since 1970-ish, obliged all students in their 6th semester to experience it for two months. Gratefully, my sister who had experienced it before, told me to do it in the same place like her, it was in Kaimana, West Papua. I was beyond happy yet challenged. How could I suffer two months of living in Papua? All I heard about Papua was something frightening and unpleasant. It was all about pricey groceries, malaria endemic area, heavy sobers on the road, limited access to health and education, etc.

But I kept all of my scary imaginations inside my head and tend to be more excited. I packed my easy-to-dry clothes, sunscreens, glasses, flip flop, Anne Frank's diary, notebook, heaps of medicine esp Kina and Doxycicline pills to fight malaria, and Jogja's signature keychains as souvenirs in my suitcase (#1 handy tip: you can use suitcase as your compact-cupboard for 2 months living. It's ok to use carrier, but you'll need smarter packing skills to make your clothes remain neat. For lazybutt like me, suitcase is the best choice).

Grouped in a team with another 23 students from different faculties, we named ourselves as "Senja di Kaimana" team. Our journey was tough. But hey, it had shaped us stronger and unbeatable. Been in perplexity because we were trapped in bad luck that Kaimana's local government didn't let us to do commdev there. What made it worse was we heard that bad news just 2 months before the departure date. God must be kidding. We've worked our ass off during the preparations, especially in fund raising (garage sale on every Sunday, selling snacks + parkas, hopped on cafes and fancy restaurants for charity concert, and translating proposal to gather funds from rich foundation). After heard that extremely bad news, we came in a realization that we should've been grouped with another comm-dev group in Fakfak, looking for miracles in Makassar, realistic actions in Gunung Kidul, etc. There were so many backup plans, that we honestly didn't see it as backup plans, but as plans-full-of-disappointment-and-sadness.

"Altough you may be hurt and bleeding now, a better day will come. Hard work will never betray you."

Somehow, wiseman said the wisest and truest ones.

It happened to us. We decided to still come to Kaimana with zero expectations and guessing what kind of fate that would came to us. Turns out, it was miracle that happened. The local government gave us warm welcome and let us live there for about 2 months, means that: we can do our commdev projects there! GOD IS TOO GOOD, HUH?! Everything went smoothly afterwards, surrounded by countless kind hearted people who helped us during the projects and thousand worthwhile experiences that we've discovered in precious 2 months. I met many inspiring figures, start from highschool headmaster, elementary school's teachers, powerful woman named Mama Nyai, annoying-yet-lovely kids from neighborhood, whose stories will be written up in this blog soon.

Awakened by this circumstance, I think it's important for us to be in the lowest point in our life just to feel and expect nothing from what we've done and what we've said in our prayer. It's alright to have failures, pain, and disappointment. God will do the rest by giving us another people. There will always be people with their kindness and sincerity who will help us in our most critical moments. And I found them in Kaimana.

Wednesday, June 3, 2015

Di Ujung Tujuh Puluh Lima

Aku memanggilnya Simbah. Sewaktu masih TK, aku sering mengintipnya dari daun pintu ketika ia sedang menyetrika. Sampai aku kuliah pun, ia terus menyetrika sambil berbicara apa saja. Dulu membangga-banggakan cucu pertamanya yang masih gadis. Belakangan ia suka membicarakan kelakuan anak-anaknya yang terkesan hanya ingin enaknya saja.

Di halaman belakang rumah yang teduh, sesekali ia menunggu "anak-anaknya" datang. Siang hari berdiri disana dengan segenggam beras di tangan. Menunggu burung-burung terbang merendah, mematuk satu persatu beras atau nasi sisa kemarin. Setelah kenyang, burung-burung pun pergi. Keesokan hari mereka datang lagi, Simbah menanti. 

Sesekali kulihat Simbah beristirahat di kamar perseginya. Duduk di kasur menikmati air sirup dingin di saat matahari menyengat dengan semangat. Keluargaku jarang minum sirup, sehingga dapat dipastikan sirup di kulkas habis karenanya. Belakangan, setelah terdeteksi gula, Simbah menjadi penakut. Tak sekalipun kulihat ia minum sirup atau teh manis lagi.

Kamarnya dekat dengan dapur masak. Ia memasak apa saja disana. Masakannya enak semua! Bagaimana bisa bunga pepaya menjadi tidak pahit dan berubah menjadi begitu lezat? Sampai rekan kerja Ibuku di kantor ikut memesan sayur yang ajaib itu. Ah... Belum lagi tumis buncis dan daging cincang yang rasanya persis masakan ala restoran Red Bean.

Duduk di kursi pendek, sering aku menemuinya sedang merenung. Ditemani untaian Rosario dan buku Madah Bakti. Terkadang dengan secarik kertas Novena. Aku tak tahu siapa saja yang disebut dalam doanya. Yang pasti, ketika aku pulang menenteng rapor juara satu atau mendengar Bapakku yang diberi titah dinas ke luar negeri, ia ikut berbahagia. Sempat ia utarakan keinginannya untuk bisa tetap bersamaku sampai aku punya anak pertamaku (duh, memikirkan judul skripsi pun belum).

Di halaman belakang rumah yang teduh. Suara batuknya mulai melengking kencang. Badannya yang gemuk mulai sulit digerakkan. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pulang, menemui anak dan cucunya. Mengabiskan masa senjanya. Kami pun tidak mencari penggantinya. 

Tempat tinggal kami kini berdekatan di Jogja, namun aku jarang mengunjunginya. Tak lain karena dengan sombongnya aku tak punya banyak waktu untuk kesana. Sepertinya ini lebih ke alibiku semata. Padahal Bapak menitipkan kacamata baca baru untuknya.

Pernah sekali aku bertandang ke rumahnya. Hanya butuh jalan kaki beberapa menit saja. Seperti biasa, ia banyak bercerita tentang apa saja. Namun kini dengan kondisi fisik yang jauh berbeda. Pergerakannya mulai terbatas, namun matanya masih menyiratkan harapan muda. Semangat cinta yang terbatas oleh "takdir" menjadi tua. Bagaimanapun juga, aku rindu dengannya.

Monday, May 25, 2015

Dust


Lonely,
Seeing granny whispering politely
Asking the goods for honey
In front of Holy Mary

We are ashes

Contemplating promises

Faking happiness

Tuesday, April 21, 2015

Kartini, katanya

Hari ini, 21 April 2015, untuk kesekian kalinya orang-orang sibuk memaknai kembali hari Kartini. Semangat perjuangan emansipasi wanita gencar digaungkan dimana-mana. Jujur saja aku hampir lupa, untung saja diingatkan oleh banyaknya mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang hari ini sibuk mondar-mandir pakai baju batik, hampir semuanya senada. Sayangnya, saya tidak ikut serta di lautan euphoria.

Perjuangan Kartini marak dilantunkan ke dongeng harian anak-anak. Ketika guru SD meminta seluruh murid-muridnya mengenakan pakaian adat Jawa dan kebaya untuk memperingatinya. Sayang, atribut tersebut tidak menjadi tolak ukur sejauh mana seseorang bisa memahami perjuangannya. Parameter kepedulian tidak hanya diukur dari goresan canting dan kebaya.

Mengapa harus Kartini? Mengapa bukan pahlawan wanita lainnya? Semata-mata karena Kartini  adalah sesosok figur yang berhasil dikonstruksikan menjadi "tokoh wanita", menjadi apa yang disebut pahlawan. Masih banyak pahlawan lainnya dengan perjuangan yang berbeda-beda. Masih tersebar perjuangan tanpa pengakuan yang patut dipandang. Kemunculan Kartini menjadi sebuah momentum dimana perjuangan akan pembebasan dan keadilan itu masih membara di dalam konteks dan ruang waktu yang berbeda. Apa yang sesungguhnya bisa diteladani dari Kartini? Ialah semangatnya untuk membebaskan diri, memanfaatkan apa yang dimilikinya, dan menggoreskannya pada ujung pena. Boleh saja raganya dipingit dengan segala keterbatasan, namun jiwanya tetap liar merindukan kebebasan. Jiwanya selalu ingin berlari kencang, mendahului kuda hitam. Kartini jelas memanfaatkan potensi yang ada di tengah keterbatasan, ia banyak membaca. Ia banyak menulis. Ia banyak belajar disana. Membaca sebagian isi suratnya, menyiratkan bahwa goresan yang dibuatnya tidak tumpul. Goresan itu tajam, berbekalkan intisari dan penyerapan dari berbagai buku yang dicerna.

Bagaimanapun zaman dan gaya hidup telah bergeser sedemikian jauh, namun perjuangan tersebut masih terasa relevan. Berkarya; membaca dan menulis merupakan hal esensial yang masih bisa dilakukan oleh siapa saja. Atau perjuangan lainnya, menurut pemaknaan yang kita miliki masing-masing. Pintu pembebasan jiwa masih sangat terbuka, tergantung seberapa besar usaha pencapaiannya. Menjadi sebuah penyadaran bersama bahwa wanita bisa bergerak sepenuh jiwa, sepenuhnya. Melangkah sejauh kemana asa akan membawa. Mungkin terbang bersama ke cakrawala atau terjun ke lautan dasar bertemu ikan-ikan purba. Tidak ada batasan yang mampu menghentikan langkah-langkah sarat cita.

Jangan sekalipun melempar garis ragu atau derai iba.

Sunday, April 12, 2015

Tarian Agnia

Ruang pertunjukan itu berdinding tebal, ciri khas bangunan peninggalan Belanda yang kalau diguyur banjir bandang pun tak akan tumbang. Di dalamnya, kursi-kursi permanen menempatinya dengan setia bersamaan dengan debu halus yang menghinggapi punggungnya. Ruang itu terbuka lebar bagi siapa saja yang menginginkan kebebasan dan keindahan. Tari-tarian, dentingan harpa, dan berbagai sandiwara pernah terjadi di panggung laga. Lautan penonton pernah menduduki kursi-kursinya yang berdebu halus. Ribuan percakapan intens pernah terjadi sebelum pertunjukan dimulai. Gumpalan imajinasi dan intepretasi pernah mengudara disana, memanjakan siapa saja yang merindukannya.

Rabu pagi, ruangan yang luas dan gelap itu digenangi sunyi. Puncak kegiatan biasanya ada di hari sabtu dan minggu. Sisanya, ruangan itu lebih sering digunakan secara bebas oleh siapa saja yang ingin sekedar berlatih atau duduk menyendiri. Memecah hening, Agnia masuk dengan gemulai. Ditemani gadis kecil bernama Kirana yang selalu menjadi penonton setianya, buah hatinya. Dengan perlahan mereka menuruni tangga berlapis karpet merah, melentikkan tangan di setiap kursi yang dilewati, memoles debu pada ujung jari.

Hari ini, Agnia siap menari. Kirana berlari mencari tempat duduk ternyaman untuk menyaksikan ibunya berlaga seorang diri. Agnia naik ke atas panggung, meletakkan tas rajut merah marunnya di pinggir dan bersiap di tengah. Tidak sampai hitungan kelima, ia mulai menari, berputar ke kanan dan kiri. Tubuhnya meliuk indah bersamaan dengan gerakan tangan dan kaki tanpa pakem atau perhitungan berarti. Tidak ada lagu yang mengiringi, karena ia lebih suka ditemani dengan sunyi. Dibiarkannya irama itu datang dari hati. Di tengah tariannya, ia mulai bermain dengan ingatannya lima tahun yang lalu, di tempat yang sama ia menari.

Lima tahun yang lalu. Masih sadar ia akan gemuruh tepuk tangan yang ditujukan padanya. Masih menyala pula bara api di jiwanya. Rupanya kenangan akan selalu tertancap disana. Menyeruak bebas dimana saja, terutama jika seseorang kembali ke tempat dimana ia biasa melakukannya. Agnia akan terus mengingat pertunjukan tarinya ketika ia berada di rumah, pasar, kereta, dimana saja. Apalagi di panggung itu.

Di panggung itu, lima tahun yang lalu, Agnia dan Tari menari bersama. Pertunjukan demi pertunjukan dilewati bersama dengan Tari. Berdua saja mereka berlaga, karena pemilik sanggar pun percaya bahwa mereka berdua adalah yang terbaik di antara semua. Gerakan tari yang indah dan gemulai, siap memanjakan siapa saja yang melihatnya. Agnia berarti api, dan ia tahu benar hal itu. Ia memperlakukan dirinya sama seperti api. Makin senang ia ketika disulut ribuan energi, menjadikan baranya semakin merah dan menyala. Tidak ada yang bisa memadamkan gairahnya untuk berlaga, menari tanpa henti. Ia sadar bahwa menari adalah satu-satunya media yang dapat membuat dirinya menjadi Agnia yang sepenuhnya.

Ketika mereka menari, tidak ada satu pun kedipan mata penonton yang rela dilepaskan. Semua akan terfokus melihat keindahan yang berada di hadapannya. Tarian yang indah tidak hanya tercipta dari kelihaian sendiri, tapi tercipta pula dari interaksi dan penyatuan energi. Interaksi senyuman dan tatapan penonton yang berbinar menyulut semangat Agnia dan Tari dengan pesat. Tarian mereka berhasil menyatukan frekuensi emosi dan rasa antara penari dan penonton. Penonton akan merasakan apa yang dirasakan oleh penari, begitu pula sebaliknya. Tak dibiarkannya satu gerakan pun luput dari irama keindahan yang diputar. Menari berdua dengan Tari, membuat energinya terbumbung penuh, menyatu dan terikat pekat. Saat itu, Agnia menyebut dirinya penari. Disitulah terjadi penyatuan jiwanya menjadi utuh, menjadi seorang penari.

Tarian itu juga berhasil menumbuhkan benih yang dianggap berbeda. Benih itu tumbuh sempurna. Namun sayang, tidak ada manusia yang mengizinkan benih itu tumbuh dan berbunga di kebunnya. Seberapa indah bunga itu tumbuh, seberapa sering matahari dan semesta mengizinkannya untuk berfotosintesis ria, manusia tetap tidak mau mengakui keindahannya. Keindahan itu dianggap aneh dan dapat merusak tatanan kebun yang simetris. Agnia dan Tari tidak akan bersatu lagi di panggung tari. Benih itu dipaksa untuk mati, diguyur hujan asam berhari-hari.

Agnia terus menari, meskipun kini ia menari sendiri tanpa Tari. Jika manusia sering menyebutnya sebagai pelarian tuntutan yang mengekang, Agnia lebih suka memaknainya sebagai proses memanusiakan. Menjadi manusia dengan melakukan sesuatu yang ia suka di tengah genting persilangan antara realita dan imajinasinya. Imajinasinya ingin membentuk dirinya sebagai jiwa yang bebas tanpa ikatan. Menjadi Agnia yang hidup dengan seratus persen kemauan yang datang dari diri, mengejar apa yang disebutnya sebagai cita dan cinta murni tanpa intervensi orang lain. Agnia ingin terus menari dan menyatu dengan Tari, sambil berteman dengan waktu yang memberi mereka ruang. Namun realita dengan teguh menentang dunia imajinya. Harapan dan wejangan terus menghimpit Agnia, menghantarkannya sampai ke proses pernikahan. Pernikahan (yang dianggap) sempurna dengan Devara. Pernikahan yang dikaruniai gadis kecil bernama Kirana, alasan satu-satunya mengapa Agnia harus bertahan disana.

Hari ini, Agnia menari sendiri. Tanpa seseorang yang menari bersamanya, tanpa Tari. Tanpa sorotan mata penonton yang menyemangatinya, hanya disaksikan sorotan mata dari buah hatinya yang tulus penuh cinta. Tawa dan tangis meledak bersama. Ia merindukan Tari, namun ia juga memiliki Kirana. Maka Agnia menari, tarian merupakan satu-satunya jalan dimana ia bisa merasakan kepenuhan jiwanya meskipun sekarang tarian itu terasa semu. Ia kegirangan sekaligus kesakitan. Minggu depan aku akan datang lagi, ujarnya dalam hati.

Agnia mencintai Tari, dan tari-tarian.
Ia akan terus menari, meski ia tahu bahwa Tari tidak akan menari lagi.

Sunday, February 8, 2015

Pendakian

Kepada pendar sinar yang merasuk ke ruang melalui celah dan lubang
Pendaki menemukan puncak tanpa bisa pulang

Kepada siang yang penuh perjuangan dan akal-akalan kenikmatan
Peluh berjatuhan, mendaki dalam rintihan

Kepada sore yang memagut surya kembali ke lini horizontal
Menggiring terang yang semula bernafas dalam tapal

Kepada petang yang sunyi dan layu dimakan suram
Pendaki bernyanyi nyaring tapi hatinya diam

Sehari, semoga kabut menghilang
Mengantar pendaki kembali ke dataran terang

Sebelum terperosok lagi ke terjalan pasir penuh asa
Tak satupun yang nyata dan berwujud rasa

Ada hampa yang mengakar, memecahkan batuan dibantu tetes air konstan
Kalut, sendirian

Wednesday, January 21, 2015

2014: Travel Journey















Holla! Planned to publish this post on 31st Dec but I failed (a lot of family holiday plans need to be checklisted :p), so here is my late post about 2014. I didn't travel to many amazing places you see on traveler's most visited places but I'm grateful that I made a progress from a lovely-homey girl who turns into a more reflective + adventurous girl. The most amazing experience was when I hiked Merbabu, out from my comfort zone and learned the lessons: money isn't everything, we're only powerless human in the middle of big big universe, and friendship wins above all ;)

All of the places I traveled are (still) located in Java. I find it so hard to arrange my time and go faraway because I feel like I don't have much time to do that. But I was wrong. I have time. I do really have it. I often find myself doing nothing or just surfing online. Dude, this is the thing that I should work on 2015: do something or go traveling.

I hope it's still okay to say Happy New Year.
My resolution is quite simple: do more, read more, learn more.
Ah... Have you listed down your resolutions or places you wanna visit in 2015? Better you do! It's fun and exciting! :)