Wednesday, June 3, 2015

Di Ujung Tujuh Puluh Lima

Aku memanggilnya Simbah. Sewaktu masih TK, aku sering mengintipnya dari daun pintu ketika ia sedang menyetrika. Sampai aku kuliah pun, ia terus menyetrika sambil berbicara apa saja. Dulu membangga-banggakan cucu pertamanya yang masih gadis. Belakangan ia suka membicarakan kelakuan anak-anaknya yang terkesan hanya ingin enaknya saja.

Di halaman belakang rumah yang teduh, sesekali ia menunggu "anak-anaknya" datang. Siang hari berdiri disana dengan segenggam beras di tangan. Menunggu burung-burung terbang merendah, mematuk satu persatu beras atau nasi sisa kemarin. Setelah kenyang, burung-burung pun pergi. Keesokan hari mereka datang lagi, Simbah menanti. 

Sesekali kulihat Simbah beristirahat di kamar perseginya. Duduk di kasur menikmati air sirup dingin di saat matahari menyengat dengan semangat. Keluargaku jarang minum sirup, sehingga dapat dipastikan sirup di kulkas habis karenanya. Belakangan, setelah terdeteksi gula, Simbah menjadi penakut. Tak sekalipun kulihat ia minum sirup atau teh manis lagi.

Kamarnya dekat dengan dapur masak. Ia memasak apa saja disana. Masakannya enak semua! Bagaimana bisa bunga pepaya menjadi tidak pahit dan berubah menjadi begitu lezat? Sampai rekan kerja Ibuku di kantor ikut memesan sayur yang ajaib itu. Ah... Belum lagi tumis buncis dan daging cincang yang rasanya persis masakan ala restoran Red Bean.

Duduk di kursi pendek, sering aku menemuinya sedang merenung. Ditemani untaian Rosario dan buku Madah Bakti. Terkadang dengan secarik kertas Novena. Aku tak tahu siapa saja yang disebut dalam doanya. Yang pasti, ketika aku pulang menenteng rapor juara satu atau mendengar Bapakku yang diberi titah dinas ke luar negeri, ia ikut berbahagia. Sempat ia utarakan keinginannya untuk bisa tetap bersamaku sampai aku punya anak pertamaku (duh, memikirkan judul skripsi pun belum).

Di halaman belakang rumah yang teduh. Suara batuknya mulai melengking kencang. Badannya yang gemuk mulai sulit digerakkan. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pulang, menemui anak dan cucunya. Mengabiskan masa senjanya. Kami pun tidak mencari penggantinya. 

Tempat tinggal kami kini berdekatan di Jogja, namun aku jarang mengunjunginya. Tak lain karena dengan sombongnya aku tak punya banyak waktu untuk kesana. Sepertinya ini lebih ke alibiku semata. Padahal Bapak menitipkan kacamata baca baru untuknya.

Pernah sekali aku bertandang ke rumahnya. Hanya butuh jalan kaki beberapa menit saja. Seperti biasa, ia banyak bercerita tentang apa saja. Namun kini dengan kondisi fisik yang jauh berbeda. Pergerakannya mulai terbatas, namun matanya masih menyiratkan harapan muda. Semangat cinta yang terbatas oleh "takdir" menjadi tua. Bagaimanapun juga, aku rindu dengannya.