Saturday, July 16, 2016

Alpha

Kali ini aku mencoba berdamai dengan gunungan kecamuk yang bergelayut di derai tawa tumpukan orang-orang yang mengular di festival. Mereka beramai-ramai ingin memainkan perspektif dan menancapkan ego pemaknaan masing-masing pada film yang menuai hingar bingar. Harusnya. Entah juga jika hanya ingin selewat untuk kemudian pulang dan tidur malam.

Aku justru terpaku pada awalan yang membuat denyutku bertalu dan tangis pecah, Ave Maria di sela-sela kaki anak laki-laki memainkan petasan. Ah Maria... Dan alunannya seriosa. 

Dari keramaian itu sunyi mengetuk pintu. Berkali-kali ia mencumbu keyakinan semu. Tentang bagian-bagian yang terserak berantakan di berbagai dimensi waktu. Sesaat rindu, tapi lebih sering kelu. Atau mati rasa, rupanya.

Oh malang... Berapa hati yang sudah kubuang. Berapa sedu sedan yang kuanggap hilang. Tentang hujan dan berapa pesananku yang tidak pernah sama dari waktu ke waktu. Tidak tahu. Tak pernah mau tahu.

Lagipula, aku tidak pernah menulis untuk atau tentangmu.